
Oleh: Akhmad Zainal M
Asisten Program Ekosistem Pertanian (Koordinator Urban Futures)
Yayasan KEHATI
Perahu sope berlayar di antara kapal phinisi, bergerak mendekati dermaga di Labuan Bajo. Di tengah deru mesin perahu, hembusan angin laut, hamparan bulu babi, dan hangatnya sang surya, masyarakat pesisir telah siap menyambut hari. Selalu ada harapan yang mereka bawa pulang dari laut. Berbagai hasil tangkapan siap dinikmati bersama keluarga, baik digoreng, ditumis, dikukus, maupun berkuah. Begitulah cara para nelayan merayakan dan menikmati kehidupan.
Bagi masyarakat pesisir Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, laut adalah ruang kehidupan tempat mereka terus melangkah, bukan sekadar hamparan air penambah keindahan pulau. Laut merupakan identitas, pilar kehidupan, sumber pangan, sekaligus penopang utama ekonomi keluarga. Dari lautlah mereka menyambung hidup.
Namun, melimpahnya sumber daya laut belum menjamin ketersediaan pangan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Perkembangan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata prioritas perlahan menggeser ketahanan pangan dan kesejahteraan warga lokal. Perubahan aktivitas ekonomi, dinamika kebutuhan pasar, pola konsumsi, serta alur distribusi pangan menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat setempat.
Di tengah kondisi ini, persoalan bukan lagi seberapa banyak ikan yang ditangkap atau dijual. Kita perlu menelisik siapa yang paling diuntungkan, bagaimana pola distribusi sumber daya laut berjalan, serta bagaimana upaya masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut tersebut.
Perempuan Muda: Menghubungkan Laut, Perasaan, dan Masa Depan
Sistem pangan pesisir memberikan sudut pandang baru dalam menghargai hasil laut, sebab kita tidak pernah tahu pasti apa yang akan didapatkan setiap harinya. Penghargaan terhadap hasil laut tidak berhenti saat nelayan mendarat di dermaga. Ada serangkaian proses mulai dari pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi untuk meningkatkan nilai gizi dan ekonomi. Dalam rantai ini, peran perempuan sangat krusial, baik dalam mengelola konsumsi keluarga maupun menyokong perekonomian.
Ikan sampurea, yang melimpah di perairan Manggarai Barat, biasanya diolah menjadi ikan asin untuk bahan sambal. Keberadaan ikan khas ini memberikan kepastian pangan bagi konsumen, namun tidak selalu membawa kepastian bagi para nelayan yang kerap dihadapkan pada fluktuasi harga jual dan ketidakpastian pendapatan.
Dalam sebuah forum, Eliza Fauzi, seorang perempuan muda asal Labuan Bajo, mengajak masyarakat untuk lebih menghargai kerja keras nelayan yang bertaruh nyawa menghadapi ombak, angin, dan hujan. Ia menekankan bahwa nilai pangan tidak sebatas nominal harganya, melainkan juga mencakup proses panjang dan perjuangan di baliknya. Menariknya, perspektif dari orang muda yang tumbuh di wilayah pesisir ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk selalu berdaulat sekaligus mendaulatkan orang lain.
Bagi generasi muda ini, hasil tangkapan laut bukan sekadar komoditas yang harus segera dijual, melainkan bahan pangan bernilai tinggi yang didapat dengan mempertaruhkan keselamatan jiwa di tengah ketidakpastian laut. Mereka membuktikan bahwa anak muda mampu memaknai kehidupan secara mendalam dan menjaga pengetahuan cita rasa lokal melalui olahan pangan. Inovasi ternyata tidak melulu soal kemudahan teknologi atau cara-cara canggih untuk meraup untung sebesar-besarnya. Bagi mereka, menghargai hasil laut dan para nelayan secara sadar adalah wujud nyata inovasi yang menjembatani masa kini dan masa depan.
Aspirasi orang muda tersebut mengingatkan bahwa transformasi sistem pangan tidak cukup hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi atau penciptaan produk baru. Perubahan yang substantif juga harus menyentuh tata cara perdagangan hasil laut serta keadilan dalam pembagian manfaat ekonominya.
Inovasi dapat dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti menghargai hasil tangkapan, membuka akses informasi harga secara transparan, membangun kerja sama langsung antara nelayan dan pembeli, serta mengembangkan produk olahan. Dalam hal ini, peran perempuan sangat krusial untuk menghubungkan nelayan, pengolah pangan, pelaku usaha, dan konsumen guna memperluas pilihan pemasaran. Peran tengkulak atau perantara tidak harus sepenuhnya dihilangkan, tetapi yang perlu didorong adalah rantai distribusi yang lebih transparan, persaingan yang sehat, dan posisi tawar nelayan yang lebih kuat. Dengan demikian, inovasi tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memastikan para penyedia pangan mendapatkan penghargaan yang layak. Sebab, menghargai ikan berarti menghargai orang yang menangkapnya.
Inovasi masa kini bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, melainkan merawat apa yang kita miliki, memperbaiki ketidakadilan, serta memastikan laut dan pangan lokal tetap menjadi sumber kehidupan bagi semua.
© 2025 All Right Reserved